i love my life

i write to fight my short-memory-loss | my room for learning and sharing something new

Wajibkah Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah?

on 7 December 2010

Tentang Ucapan “Selamat Tahun Baru Hijriyah”

 

يقول السائل: ما حكم التهنئة بالسنة الهجرية و ماذا يرد على المهنئ؟
فأجاب فضيلة الشيخ العثيمين رحمة الله
إن هنّأك احد فَرُدَّ عليه و لا تبتديء احداً بذلك هذا هو الصواب في هذه المسألة لو قال لك إنسان مثلاً نهنئك بهذا العام الجديد قل : هنئك الله بخير و جعله عام خير و بركه لكن لا تبتدئ الناس أنت لأنني لا أعلم أنه جاء عن السلف أنهم كانوا يهنئون بالعام الجديد بل إعلموا ان السلف لم يتخذوا المحرم أول العام الجديد إلا في خلافة عمر بن الخطاب رضي الله عنه

Tanya:

Bagaimana hukum yang berkenaan dengan ‘ucapan selamat’ saat memasuki tahun baru hijriyah, dan bagaimana jawaban kita bagi yang mengucapkan selamat?

 

Jawaban:

Jika seseorang memberikan ucapan selamat kepada anda, maka balaslah. Namun hendaknya dia tidak memulai, dan inilah sikap yang benar dalam permasalahan ini.

Sebagai contoh, jika seorang berkata kepada Anda, “Kami ucapkan selamat tahun baru (hijriyah),” maka katakan, “Semoga Allah memberikan kebaikan kepada anda dan menjadikannya sebagai tahun kebaikan dan barakah.”

Namun, jangan engkau memulai sendiri ucapan ini, sebab saya tidak mengetahui hal ini datang dari pendahulu (Salafus Sholih) kita, di mana mereka dulu memberi selamat satu sama lain untuk tahun baru.

Bahkan, ketahuilah bahwa bahwa para Salaf tidak mengambil Muharram sebagai bulan pertama tahun hijriyah, kecuali pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Sumber: Akhwat.web.id

Note: Jika kita mendapat ucapan selamat, maka balaslah sekaligus terangkan bahwa ucapan itu tdk ada asal dan atsarnya dari pendahulu kita. Sehingga tahun depan orang itu tidak mengucapkan selamat lagi kepada kita, wallahu a’lam..

Posted with WordPress for BlackBerry.

 

[Update on 2012-11-14]

 

Kekeliruan dalam Menyambut Awal Tahun Baru Hijriyah

Dalam agama ini, bulan Muharram (dikenal oleh orang Jawa dengan bulan Suro), merupakan salah satu di antara empat bulan yang dinamakan bulan haram. ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36)

Ibnu Rajab mengatakan, ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perputaran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.” [Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 217, Tahqiq: Yasin Muhammad As Sawas, Dar Ibnu Katsir, cetakan kelima, 1420 H.]

Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” [HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679]. Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab. Oleh karena itu bulan Muharram termasuk bulan haram.

Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna. Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” [Zaadul Masiir, Ibnul Jauziy, tafsir surat At Taubah ayat 36, 3/173, Mawqi’ At Tafasir.]

Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” [Kedua perkataan ini dinukil dari Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali.]

Suri tauladan dan panutan kita, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” [HR. Muslim no. 2812]

Al Hafizh Abul Fadhl Al ’Iroqiy mengatakan dalam Syarh Tirmidzi, ”Apa hikmah bulan Muharram disebut dengan syahrullah (bulan Allah), padahal semua bulan adalah milik Allah?” Beliau rahimahullah menjawab, ”Disebut demikian karena di bulan Muharram ini diharamkan pembunuhan. Juga bulan Muharram adalah bulan pertama dalam setahun. Bulan ini disandarkan pada Allah (sehingga disebut syahrullah atau bulan Allah, pen) untuk menunjukkan istimewanya bulan ini. Dan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sendiri tidak pernah menyandarkan bulan lain pada Allah Ta’ala kecuali bulan Allah (yaitu Muharram). [Syarh Suyuthi li Sunan An Nasa’i, Abul Fadhl As Suyuthi, 3/206, Al Maktab Al Mathbu’at Al Islami, cetakan kedua, tahun 1406 H.]

Dalam menghadapi tahun baru hijriyah atau bulan Muharram, sebagian kaum muslimin salah dalam menyikapinya. Bila tahun baru Masehi disambut begitu megah dan meriah, maka mengapa kita selaku umat Islam tidak menyambut tahun baru Islam semeriah tahun baru masehi dengan perayaan atau pun amalan?

Satu hal yang mesti diingat bahwa sudah semestinya kita mencukupkan diri dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya. Jika mereka tidak melakukan amalan tertentu dalam menyambut tahun baru Hijriyah, maka sudah seharusnya kita pun mengikuti mereka dalam hal ini. Bukankah para ulama Ahlus Sunnah seringkali menguatarakan sebuah kalimat, “Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya.” Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya. [Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, tafsir surat Al Ahqof: 11, 7/278-279, Dar Thoyibah, cetakan kedua, tahun 1420 H.]

Sejauh yang kami tahu, tidak ada amalan tertentu yang dikhususkan untuk menyambut tahun baru hijriyah. Dan kadang amalan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin dalam menyambut tahun baru Hijriyah adalah amalan yang tidak ada tuntunannya karena sama sekali tidak berdasarkan dalil atau jika ada dalil, dalilnya pun lemah.

Amalan Keliru dalam Menyambut Awal Tahun Hijriyah:
Pertama: Do’a awal dan akhir tahun
kedua: Puasa awal dan akhir tahun
Ketiga: Memeriahkan Tahun Baru Hijriyah

Merayakan tahun baru hijriyah dengan pesta kembang api, mengkhususkan dzikir jama’i, mengkhususkan shalat tasbih, mengkhususkan pengajian tertentu dalam rangka memperingati tahun baru hijriyah, menyalakan lilin, atau membuat pesta makan, jelas adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya. Karena penyambutan tahun hijriyah semacam ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, para sahabat lainnya, para tabi’in dan para ulama sesudahnya. Yang memeriahkan tahun baru hijriyah sebenarnya hanya ingin menandingi tahun baru masehi yang dirayakan oleh Nashrani. Padahal perbuatan semacam ini jelas-jelas telah menyerupai mereka (orang kafir). Secara gamblang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”. [HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269]

Menyambut tahun baru hijriyah bukanlah dengan memperingatinya dan memeriahkannya. Namun yang harus kita ingat adalah dengan bertambahnya waktu, maka semakin dekat pula kematian. Sungguh hidup di dunia hanyalah sesaat dan semakin bertambahnya waktu kematian pun semakin dekat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia tidak lain seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya.” [HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi]

Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanya memiliki beberapa hari. Tatkala satu hari hilang, akan hilang pula sebagian darimu.” [Hilyatul Awliya’, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi.]

Semoga Allah memberi kekuatan di tengah keterasingan. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Selengkapnya di: Rumaysho.com

Baca juga: Anjuran Puasa Muharram

About these ads

5 responses to “Wajibkah Mengucapkan Selamat Tahun Baru Hijriyah?

  1. teta says:

    :) post nya bagus mbak :)
    Itu artikel di atas yg dimaksud doa awal dan akhir tahun, tahun apa mbak? Hijriyah atau kalender yg biasa itu?

    • Makasih ya adek udah mampir dan komen :)

      Di atas gak ada doa awal dan akhir tahun tuh dek, dan memang tidak ada doa khusus untuk awal & akhir tahun. Sementara doa awal & akhir tahun yang sudah banyak tersebar itu tidak pernah dicontohkan Rasulullah.

  2. erna says:

    trus klu kt berdoa sbgmn yg sdh di kenal msyarakat apa kt salah? apa kita berdosa klu kt berdoa awal dan akhir tahun? apa kt juga berdosa berat jika kt mengucapkan selmt thu baru hiriah lalu memeriahkannya dgn cara khitanan massal atau berdoa bersama supaya kehidupn bs lebih baik???? lalu kt hrs bagaimana jika tahun baru islam dtg? kenapa tahun baru masehi kt bergembira lalu di thn baru islam kt tdk boleh bahagia???? MOHON PENJELASAANNYA UNTUK KAMI YANG MSH AWAM DALAM MEMAHAMI AGAMA

  3. erna says:

    satu lg yg saya tau doa adalah pengharapan kepada Allah, mengharap keberkahan. dlm doa awal dan akhir tahun tdk ada kata2 yg mengandung kemusyrikan. dan klu pada jaman nabi doa awal dan akhir tahun atau ucapan selmt thn baru hijriah tdk di contohkan, penggunaan internet, facebook, mobil dan msh byk yg lain juga tdk pernh di contohkan nabi tapi di lakukan d jaman sekarang . sy kutip artikel anda “Satu hal yang mesti diingat bahwa sudah semestinya kita mencukupkan diri dengan ajaran Nabi dan para sahabatnya Jika mereka tidak melakukan amalan tertentu dalam menyambut tahun baru Hijriyah, maka sudah seharusnya kita pun mengikuti mereka dalam hal ini. Bukankah para ulama Ahlus Sunnah seringkali menguatarakan sebuah kalimat, “Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita melakukannya.” Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya”……….gmn??? tolong donk sy bingung sekali

    • Mbak Erna yang saya sayangi karena Allah, ijinkan saya yang awam ini mencoba menjawab pertanyaan mbak Erna.

      Perkara dosa atau tidak, wallahua’lam hanya Allah yang mengetahuinya, saya hanya menyampaikan ilmu yang saya dapat dan berusaha mengamalkannya sedikit demi sedikit. Contohnya begini; mbak Erna punya anak yang masih kecil, lalu karena mbak Erna (misal) bekerja di kantor sedangkan di rumah tidak ada PRT, mbak Erna mencatat apa yang harus anak mbak Erna lakukan sepulang sekolah, antara lain: mengganti pakaian seragam dengan pakaian rumah, mencuci muka-tangan-kaki, sholat, makan siang, lalu tidur siang. Tak lupa mbak Erna memberi peringatan agar si anak tidak main di dekat kompor dan menjauhi pisau di rak dalam dapur. Si anak yang masih kecil mungkin tidak tahu mengapa dia harus melakukan ini dan menjauhi itu, dia pun tak tahu apa akibatnya jika dia melanggar itu semua. Namun pastinya, jika dia mematuhi semua peraturan tersebut, segalanya akan berjalan sesuai yang mbak Erna rencanakan. Begitu pula dengan kehidupan kita, Rasulullah meninggalkan 2 perkara yang jika kita berpegang pada keduanya maka hidup kita akan selamat; apakah 2 hal tersebut? Jawaban mbak Erna benar jika mbak menjawab Al-Qur’an dan hadist (shahih). Darimana kita tahu hadist ini shahih atau tidak? Tentunya kita harus belajar ke ahlinya, ulama. Media internet sangat membantu kita untuk menemukan ulama yang memang benar-benar menjalankan apa yang Allah & Rasulullah perintahkan :)

      Memang, mengadakan acara khitanan massal atau berdoa bersama terlihat baik. Ada baiknya jika ingin mengadakan acara tidak dikait-kaitkan dengan ajaran Islam jika Rasulullah tidak menyontohkannya. Silakan mengadakan acara khitanan massal namun tidak pakai embel-embel “dalam memperingati tahun baru Hijriyah / Isra’ Mi’raj / hari lahir Rasulullah, dll”. Wallahua’lam..

      Untuk acara berdoa bersama, cukuplah ayat Al-Qur’an ini sebagai penjawabnya: “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (Al-An`aam:43)
      Dari ayat tersebut sudah ditunjukkan cara berdoa yang benar yaitu dengan tunduk merendahkan diri, dalam artian tidak mengeraskan suara. Selengkapnya dapat mbak Erna baca di: http://www.konsultasisyariah.com/tata-cara-berdoa/#axzz2CGMHX4HE. Wallahua’lam..

      Dalam Islam, dzikir (mengingat Allah) itu wajib http://muslim.or.id/hadits/majelis-dzikir.html, namun bukan dengan cara dzikir berjama’ah http://ustadzaris.com/sanggahan-untuk-amalan-dzikir-berjamaah. Wallahua’lam..

      Saya pribadi (& keluarga) tidak pernah merayakan tahun baru Hijriyah, apalagi tahun baru Masehi. Jadi tidak tepat bila mbak Erna menyebut, “kenapa tahun baru masehi kt bergembira lalu di thn baru islam kt tdk boleh bahagia?” karena kami tidak melakukannya. Buat apa bergembira padahal itu berarti jatah usia kita di bumi semakin sedikit? Sudah yakinkah kita akan amal perbuatan yang kita kerjakan akan menolong kita di hari perhitungan nanti? Saya tidak sanggup menjawabnya, karena dosa diri ini pun setinggi gunung sedangkan amal tidak seberapa. Astaghfirullah :(

      Mengenai teknologi yang mbak Erna sebutkan apakah bid’ah atau bukan terjawab oleh artikel-artikel ini:

      Pertanyaan:
      Wahai Sahamatus Syaikh, saya tahu adanya batasan yang rinci dalam membedakan antara sunnah dan bid’ah, namun tolong jelaskan kepada kami apa batasan antara bid’ah dalam agama dengan bid’ah dalam masalah duniawi.
      Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah menjawab: Dalam masalah duniawi, tidak ada bid’ah, walaupun dinamakan bid’ah (secara bahasa). Manusia membuat mobil, pesawat, komputer, telepon, kabel, atau benda-benda buatan manusia yang lain semua ini tidak dikatakan bid’ah walaupun memang disebut bid’ah dari segi bahasa, namun tidak termasuk bid’ah dalam istilah agama. Karena bid’ah secara bahasa artinya segala sesuatu yang belum pernah dibuat sebelumnya, itu semua disebut bid’ah.
      Sumber: http://kangaswad.wordpress.com/2012/08/09/bidah-dalam-perkara-duniawi/

      Asy Syatibi juga mengatakan, “Perkara non ibadah (‘adat) yang murni tidak ada unsur ibadah, maka dia bukanlah bid’ah. Namun jika perkara non ibadah tersebut dijadikan ibadah atau diposisikan sebagai ibadah, maka dia bisa termasuk dalam bid’ah.” (Al I’tishom, 1/348)
      Komputer, HP, pesawat, pabrik-pabrik kimia, berbagai macam kendaraan, dan teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini, itu semua adalah perkara yang dibolehkan dan tidak termasuk dalam bid’ah yang tercela. Kalau mau kita katakan bid’ah, itu hanyalah bid’ah secara bahasa yaitu perkara baru yang belum ada contoh sebelumnya.
      Sumber: http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2940-mengenal-bidah-4-benarkah-hp-dan-pesawat-termasuk-bidah.html

      Hukum sarana tergantung tujuan, pemakaian teknologi juga tergantung tujuan, apakah dipakai dalam perkara yang halal/jaiz atau yang haram. Tidak ada bid’ah dalam agama untuk perkara penemuan manusia yang terkait dengan terus berkembangnya peradaban dan teknologi. Termasuk metodologi dalam berdakwah.
      Sumber: http://abuayaz.blogspot.com/2011/02/perkataan-mereka-kalau-tidak-mau-bidah.html

      Masya Allah, kalau kita kaji ternyata sangat banyak sekali sumber ilmu di internet. Dan saya hanya menyampaikan apa yang ada di dalam Al-Qur’an dan Hadist, demi Allah haram hukumnya berdusta atas nama Nabi. Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari, dan juga Muslim dalam Mukadimah Shahihnya, lihat al-Jam’u Baina ash-Shahihain, hal. 9)
      Sumber: http://abumushlih.com/larangan-berdusta-atas-nama-nabi.html/
      Artikel lainnya: Hadits Dho’if Menjadi Sandaran Hukum http://muslim.or.id/hadits/hadits-dhoif-menjadi-sandaran-hukum.html

      Saya teringat pesan Imam Dziaul Haq, beliau menyampaikan hadits Rasulullah sebagai berikut, “Di akhirat nanti akan ada orang yang dipanggil Allah, kemudian dikatakan kepadanya, “Inilah hasil amal ibadah mu selama kamu di dunia.” Orang tersebut heran karena melihat amal nya sangat banyak. Kemudian Allah katakan, “Kamu melakukan sebuah perbuatan baik dan perbuatan itu di ‘dakwah’ kan serta dilakukan banyak orang, kamu pun mendapat pahala dari apa yang mereka kerjakan.”
      Kemudian Allah memanggil seorang yang lain. Kemudian dikatakan kepadanya, “Inilah dosa-dosa mu selama kamu di dunia.” Orang tersebut heran karena melihat dosa nya sangat banyak. Kemudian Allah katakan, “Kamu melakukan sebuah dosa dan dosa itu tersebar serta dilakukan banyak orang, kamu pun mendapat dosa dari apa yang mereka kerjakan.”

      Demikian yang dapat saya sampaikan mbak Erna, silakan dibaca dan jika ada yang ingin ditanyakan lagi insya Allah saya siap membantu. Karena dengan begitu sebenarnya saya jadi belajar lagi dan mengingatkan diri saya sendiri. Wallahua’lam, mohon maaf atas segala khilaf :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: