Ceritanya bermula saat 4 bulan lalu (September 2011) mulai tinggal di Busan, suhu yang dingin (saat itu sekitar 20 derajat Celcius) membuat saya memutuskan memakai kaus kaki dobel. Nah jarak tempat tinggal yang lumayan jauh dari lab (sekitar 1 km) membuat kaki saya berkeringat sesampainya di lab sehabis berjalan kaki 15 menit. Namun senior saya (orang Korea) walaupun autumn gitu tetap menyalakan pendingin ruangan. Alhasil di luar maupun di dalam lab suhunya sama-sama dingin, jadi mau tidak mau saya tetap pakai kaus kaki dobel di dalam lab.
Sebulan kemudian (Oktober 2011), mulai terlihat bercak kemerahan di jari-jari kaki saya. Saat itu belum terasa sakit, jadi masih meneruskan kebiasaan pake kaus kaki dobel hehehe
. Awal November bareng Riska cari sepatu boot di pasar Nampodong, tapi gak ada yang buat ukuran kaki saya. Baru berhasil nemu boot tanggal 9 Desember 2011, itupun nomernya 25 (udah paling gede untuk ukuran cewek Korea) dan nge-pres kaki pula! Gapapa deh, yang penting kaki terlindung dari dingin tanpa perlu pakai kaus kaki dobel.
Namun ternyata Desember minggu kedua, si luka makin merah seperti bersiap pecah-pecah dan terasa gatal. Alhasil jalan kaki jadi susah karena luka terasa perih. Ditemani dek Ayi, saya pergi ke klinik kampus di plasa Good Plus. Pihak klinik mengatakan tidak bisa menangani luka saya, disarankan untuk langsung ke rumah sakit. Kamipun menuju rumah sakit di daerah Namsan (4 stasiun dari PNU ke arah Nopo).
Setelah diperiksa, dokter memberi resep untuk seminggu dan perintah untuk tes darah. APA? TES DARAH? *jeng jeng mata terbelalak*. Terus terang saya paling takut sama yang nanyanya jarum suntik. Sebenarnya udah biasa diambil darah & diinfus, tapi karena ibu saya bidan jadilah selalu yang melakukannya ibu saya sendiri. Pengalaman diambil darah oleh orang lain, rasanya sakit sekali, tidak smooth seperti diambil ibu sendiri.
Setelah menanyakan biaya tes darah yaitu sebesar 330,000 won, dek Ayi menanyakan ke International Office PNU berapa besar reimburst-nya, ternyata 280,000 won. Kalo diabetes, insya Allah saya tidak ada bakat itu di dalam keluarga jadi gak perlu tes darah untuk tahu jawabannya. Saya duduk sebentar dan berpikir, naga-naganya udah gak pengen diambil darah, plus ada tanggungan 50,000 won yang harus dibayar hehe
. Akhirnya saya memutuskan untuk gak tes darah, tapi tetap nebus resepnya.
Seminggu setelahnya, gatal sudah hilang namun luka semakin parah. Ada yang menyarankan untuk kembali ke dokter, tapi saya tahu pasti dokter nanti menyuruh tes darah
Akhirnya berusaha jadi dokter buat diri sendiri: pake Betadine, pake krim Atrix, pake madu propolis, dst; saya coba semuanya satu-persatu. Puncaknya saat minggu kedua Januari 2012, lukanya pecah dan sakitnya udah gak bisa ditahan lagi sehingga sudah gak kuat ke lab. Saya ijin ke profesor untuk istirahat sampai kaki saya sembuh, profesor pun mengijinkan.
Teman Korea saya Kyoungjae memaksa pergi ke dokter tanggal 16 Januari kemarin. Kami pergi ke On Hospital di daerah Buam (dari line 1, pindah ke line 2 di Seomyeon, turun 1 stasiun kemudian keluar di Exit 6). Dokter mengatakan bahwa kaki saya kena FROSTBITE (동상). Menurut kak Wikipedia, frostbite adalah kondisi dimana lapisan kulit rusak karena suhu yang dingin. Frostbite sering ditemukan terjadi pada bagian tubuh yang paling jauh dari jantung dan di area terbuka, terutama daerah jari kaki dan atau tangan.
Dokter memerintahkan untuk “ngamar” karena frostbite ini sudah second degree, satu stage lagi ancamannya amputasi! Mau tidak mau saya terpaksa nurut, setelah Kyoungjae membereskan masalah asuransi dan sebagainya, kemudian saya harus menjalani TES DARAH yang saya benci, tes urine, dan foto rontgen resmilah saya sebagai penghuni kamar 904 bersama 7 orang ahjumma lainnya
Waktu tes darah, ternyata rasanya gak sesakit waktu di Indonesia, bahkan hampir tidak terasa jarumnya. Pun saat harus disuntik dan diinfus, tapi tetap aja geli hehe
. Esoknya saya dipindah ke kamar 706 karena lantai 7 itu khusus buat yang kakinya sakit. Tadinya saya sendiri, sorenya ada 3 pasien lain yang semuanya halmoni (nenek)
. Para halmoni ini kalo malam saat tidur menyetel kondisioner udara menjadi suhu 30 derajat, malamnya kaki saya berkeringat luar biasa sehingga rasa gatal yang timbul makin menjadi. Alhasil saya tidak bisa tidur
. Esoknya dokter memindahkan saya privat ke kamar 707, wah bahagialah saya bisa sekamar sendiri
Alhamdulillah setelah 10 hari dirawat, kemarin (26 Januari 2012) saya boleh pulang. Benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan, winter pertama kena frostbite dan harus dirawat di RS tanpa keluarga. Bersyukur teman-teman setiap malam datang membawakan pakaian ganti & makanan yang saya inginkan :’)
Sebenarnya Busan cukup hangat (paling dingin -6 derajat sampai bulan Januari ini), sehingga dokter agak kaget saya bisa kena frostbite. Sebenarnya mungkin penyebabnya tidak hanya dingin, tapi akumulasi dari bulan September itu. Agar tidak terkena frostbite, usahakan menjaga suhu yang hangat (bukan panas & bukan dingin) di daerah kaki, tangan, dan hidung. Selamat datang, musim dingin!










emang ukuran kaki orang korea lebih kecil dari orang Indonesia ya mbak?
Iya, kaki cewek Korea kecil & langsing
ya ampun Nellllyy… parah bener nih km kok sampai ngamar segala…
aku baru tau jenis pengakit gt loh ne… jaga diri donk Nel, di negara orang ojo smpe sakit segala smpe ngamar lg..emang sih pengalaman ngamar di negara orang(jd bisa nulis cerita di Blog..heheh..).. tapi ya teteep aja sakit itu dimana2 ndak enak..
Take care yes… ^^