i love my life

i write to fight my short-memory-loss | my room for learning and sharing something new

Pemulung: Ini sudah masuk Ashar, nak?

on 11 January 2011

Sore tadi saat sedang duduk di kampus Teknik Sipil setelah menyerahkan draft Tugas Akhir, tiba-tiba ibu pemulung yang biasa mengais botol di kampus saya bersama anak-anaknya mendekati saya sambil bertanya, “Ini sudah masuk (waktu shalat) Ashar, nak?”. Langsung saya jawab, “Sudah bu.” *sambil tersenyum semanis mungkin* mengingat saat itu sudah hampir jam 4.

Subhanallah.. Di tengah kesibukannya bergelut dengan sampah, ternyata ibu itu adalah wanita shalihah yang berusaha shalat tepat waktu. Pantas saja setiap bertemu, dia selalu membawa bungkusan yang selalu ditaruhnya di suatu tempat saat sedang “berdinas”. Mungkin isinya baju bersih dan mukenah ya? Rasanya wajah saya seperti ditampar, saya sendiri yang ditanyai malah saat itu belum shalat. Memang menyengaja mau shalat di rumah saja habis mandi sore.

Jadi teringat artikel Ustadz Abduh Tuasikal yang saya baca beberapa hari lalu…

HANYA SHALAT JUM’AT SEKALI SEPEKAN

Tanya:

Bagaimanakah dengan orang yang meninggalkan shalat lima waktu dan ia hanya mengerjakan shalat Jum’at saja? Apakah ia pantas mendapatkan laknat (hukuman)?

Jawab:

Segala puji bagi Allah. Orang semacam itu pantas mendapatkan hukuman berdasarkan kesepakatan kaum muslimin (baca: ijma’). Menurut mayoritas ulama (seperti Imam Malik, Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad) wajib orang semacam itu dimintai taubat. Jika ia tidak bertaubat, maka ia wajib dibunuh (atas otoritas penguasa, pen). Orang yang meninggalkan shalat boleh saja dilaknat dalam bentuk umum. Sedangkan melaknat masing-masing individu sebaiknya ditinggalkan, karena mungkin saja individu yang ada bertaubat. Wallahu a’lam.

[Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, 22/63]

Rincian Hukum Meninggalkan Shalat

Perlu diketahui, para ulama telah sepakat (baca: ijma’) bahwa dosa meninggalkan shalat lima waktu lebih besar dari dosa-dosa besar lainnya.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, ”Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, Ibnul Qayyim, hal. 7)

Adapun berbagai kasus orang yang meninggalkan shalat, kami dapat rinci sebagai berikut:

Kasus pertama: Meninggalkan shalat dengan mengingkari kewajibannya sebagaimana mungkin perkataan sebagian orang, ‘Sholat oleh, ora sholat oleh.’ [Kalau mau shalat boleh-boleh saja, tidak shalat juga tidak apa-apa]. Jika hal ini dilakukan dalam rangka mengingkari hukum wajibnya shalat, orang semacam ini dihukumi kafir tanpa ada perselisihan di antara para ulama.

Kasus kedua: Meninggalkan shalat dengan menganggap gampang dan tidak pernah melaksanakannya. Bahkan ketika diajak untuk melaksanakannya, malah enggan. Maka orang semacam ini berlaku hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan kafirnya orang yang meninggalkan shalat. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishaq, mayoritas ulama salaf dari shahabat dan tabi’in. Contoh hadits mengenai masalah ini adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah, shahih)

Kasus ketiga: Ttidak rutin dalam melaksanakan shalat yaitu kadang shalat dan kadang tidak. Maka dia masih dihukumi muslim secara zhohir (yang nampak pada dirinya) dan tidak kafir. Inilah pendapat Ishaq bin Rohuwyah yaitu hendaklah bersikap lemah lembut terhadap orang semacam ini hingga dia kembali ke jalan yang benar. Wal ‘ibroh bilkhotimah [Hukuman baginya dilihat dari keadaan akhir hidupnya]. (Majmu’ Al Fatawa, 7/617)

Kasus keempat: Meninggalkan shalat dan tidak mengetahui bahwa meninggalkan shalat membuat orang kafir. Maka hukum bagi orang semacam ini adalah sebagaimana orang jahil (bodoh). Orang ini tidaklah dikafirkan disebabkan adanya kejahilan pada dirinya yang dinilai sebagai faktor penghalang untuk mendapatkan hukuman.

Kasus kelima: Mengerjakan shalat hingga keluar waktunya. Dia selalu rutin dalam melaksanakannya, namun sering mengerjakan di luar waktunya. Maka orang semacam ini tidaklah kafir, namun dia berdosa dan perbuatan ini sangat tercela sebagaimana Allah berfirman (yang artinya), “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Maa’un [107] : 4-5) (Lihat Al Manhajus Salafi ‘inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, Syaikh Abdul Mun’im Salim, hal. 189-190)

Nasehat Berharga: Jangan Tinggalkan Shalatmu!

Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.“ (Ash Sholah, hal. 12)

Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.“ (Ash Sholah, hal. 12)

Ibnul Qoyyim mengatakan, “Iman adalah dengan membenarkan (tashdiq). Namun bukan hanya sekedar membenarkan (meyakini) saja, tanpa melaksanakannya (inqiyad). Kalau iman hanyalah membenarkan (tashdiq) saja, tentu iblis, Fir’aun dan kaumnya, kaum sholeh, dan orang Yahudi yang membenarkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah (mereka meyakini hal ini sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka), tentu mereka semua akan disebut orang yang beriman (mu’min-mushoddiq).“ (Ash Sholah, 35-36)

***

Masya Allah.. Ibu pemulung itu saja shalatnya rajin, lalu kenapa kita yang Allah karuniakan kelebihan yang lebih banyak kok malah malas-malasan? Bahkan ada yang berani meninggalkan shalat, apa kata akhirat?😀

Tulisan ini bukan bermaksud mengecam, mengkafirkan, men-judge, dan me- me- lainnya. Hanya sekedar berbagi, kan surga luas tuh, kalo isinya cuma dikit kan sayang. Yuk kita masuki rame-rame, mau?🙂

#11111


6 responses to “Pemulung: Ini sudah masuk Ashar, nak?

  1. restia says:

    iya, mau..:) ayuk masuk bareng2..:)

  2. memiliki makna yang dalam…
    mudah2an kita selalu di ingatkan untuk selalu dekat dengan Allah SWT. thnk.

  3. Subhanallah… sebuah pengingat untuk kita agar selalu menjaga sholat kita.. **mengoreksi diri**

  4. […] This post was mentioned on Twitter by Ollie, Nelly Tsabita, Nelly Tsabita and others. Nelly Tsabita said: Pemulung: Ini sudah masuk Ashar, nak?: http://wp.me/pB7Qu-6k […]

  5. Keren artikelnya hehe, jadi cambuk buat diri sendiri juga

  6. @restia: Aamiin.. :’)
    @enang: Insya Allah begitu🙂
    @frenavit: Sama dek, diriku juga😉
    @firman: Makasih udah mampir ya mas🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: