i love my life

i write to fight my short-memory-loss | my room for learning and sharing something new

Tribute to My Grandma

on 6 February 2011

Tulisan ini merupakan ketikan sy di memopad BB saat menunggui nenek yang sedang sakit setahun yang lalu. Just want to be honest about what I feel starts from now on🙂

***

31 Januari 2010

09.00
Terus terang, dalam hidupku baru kali ini mengalami keadaan dimana aku harus menemani orang yg sepertinya hampir meninggal (sepertinya kata-kataku terkesan ndisiki kerso, tapi memang kata ibu tanda-tandanya sudah terlihat).

Mbah Kaji begitulah aku menyebut nenekku, ibu dari ibuku. Memang bukan aku yg merawat, ibuku lah yg merawat mbah, sedang aku dan adek-adek hanya sedikit membantu. Oiya, perlu kujelaskan dahulu bahwa ibuku adalah seorang perawat, bidan lebih tepatnya.

Kembali ke persoalan mbahku. Tahun ini genap usia beliau 90-an, aku tidak bisa menyebut angka pastinya, karena waktu mbah lahir belum ada pencatatan kelahiran. Ada yg bilang beliau lahir antara tahun 1902-1912, tapi ada juga yg bilang beliau lahir antara tahun 1915-1920. Entahlah mana yg benar, yang pasti jika dihitung-hitung umur beliau adalah 90-an. Ibuku sendiri adalah anak ke-13 dari 14 anak mbah kaji putri dan mbah kaji kakung (mbah kakung sudah meninggal tahun 1989. Oya, ada hal menarik, sebenarnya tidak penting, just FYI bahwa bapakku juga anak ke-13 dari 14 bersaudara, jadi sama seperti ibuku🙂. Bagi manula seusianya, mbah tergolong sehat dan cukup aktif. Beliau tidak pikun, masih ingat makanan kesukaan tiap2 anaknya. Beliau tidak sakit apapun, tidak sakit jantung, tidak juga diabetes, mungkin karena beliau selalu menjaga makanannya terbebas dari vetsin. Beliau masih bisa memasak, mengambil baju yg ada di jemuran, memberi makan kucing-kucingnya. Tapi itu dulu, dua tahun yg lalu. Dua tahun yg lalu tepatnya Maret 2008, mbah jatuh kemudian tulangnya patah, mungkin memang tulangnya sudah rapuh. Ini jadi mengingatkanku pada kata-kata ibuku biasanya, bahwa wanita yang sudah menopause sudah tidak bisa mengeluarkan hormon … (err sy lupa) sehingga kalsium diserap dari tulang. Akibatnya tulang jadi keropos dan tidak kuat menopang tubuh. Sejak jatuh tersebut, otomatis tulang mbah patah sehingga beliau harus total di tempat tidur sambil memulihkan tulangnya yang patah.

10.20
Mbah muntah cairan hitam, sepertinya ibu tahu apa itu, tapi ibu menutupi dari kami. Aq tahu dari kecemasan wajah ibu, tapi ibu coba menutupi dari kami.

19.00
Tepat adzan isya’. Sejak jam 5 tadi mbah udah muntah cairan hitam berkali-kali. Ibu bilang itu cairan asam lambung, karena mbah gak kemasukan makanan apa-apa kecuali infus. Semua anak-anak mbah udah datang. Mbah udah dirayu-rayu tetep gak mau ke rumah sakit. Gimana lagi.. We don’t know have to do..

20.30
Rumah mbah dibanjiri tamu. Mereka datang untuk meminta maaf sama mbah. Yaa itu emang tradisi di Jawa pada umumnya, jika ada orang yg sepertinya di ambang maut, maka seluruh kerabat pasti akan datang dan meminta maaf. Persis seperti saat lebaran.

***

1 Februari 2010

07.00
Ibu bilang mbah alzheimer. Karena mbah kadang ingat, kadang pikun😦 Tapi kondisi mbah sudah agak membaik dibanding semalam, sehingga aku memutuskan untuk kembali ke Surabaya.

19.00
Salah satu saudara sepupu meneleponku mengebarkan bahwa mbah sedang sakaratul maut. Aku tidak bisa langsung ke Mojosari karena malam-malam begini gak ada yang ngantar😦

21.50
Akhirnya mbah menghembuskan nafas terakhir di pangkuan ibuku..😦

***

Ibu bilang, menjelang Isya’ mbah minta diambilkan air wudhu & dipakaikan baju putih lalu sholat. Kemudian beliau minta disuapi. Padahal selama ini jarang sekali mbah yang minta makan, seringnya ibulah yang membujuk agar mbah mau makan. Saat makan, setiap satu sendok masuk beliau muntah. Tapi tetap minta makan diteruskan. Bahkan setelah habis, beliau minta nambah. Begitu seterusnya hingga bubur di dapur habis, beliau bilang sudah cukup. Katanya saat minta nambah itu, “Cepetan, engkok gak nututi (keburu nanti terlambat)”. Setelah itu beliau terus menerus muntah, sambil tetap dipangku ibuku.

Itu tadi ceritaku setahun yang lalu. Hingga saat ini aku belum bisa memaafkan diriku karena masih punya hutang sama mbah. Tahun lalu aku janji wisuda ITS Maret 2010 sehingga mbah akan ikut ke Surabaya. Nyatanya insya Allah baru terwujud setahun kemudian, insya Allah Maret nanti aku baru wisuda😦

Posted with WordPress for BlackBerry.


One response to “Tribute to My Grandma

  1. Frenavit says:

    Benar-benar sebuah catatan yang menyentuh mbak.. BTW di akhir postingan sampeyan ada kesamaan dengan sedikit yang aku alami mbak.. Jika mbak ne punya hutang wisuda ke nenek, aku hutang wisuda ke Alm. Bapak mbak.. 1 hari menjelang bapak ndak ada aku bilang aku wisuda Oktober 2010, but… mundur dan InsyaAllah maret ini..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: