i love my life

i write to fight my short-memory-loss | my room for learning and sharing something new

Pengalaman Kena Frostbite

on 27 January 2012

Contoh gambar kaki yang kena frostbite [http://bit.ly/NVEhTm]

Contoh gambar kaki yang kena frostbite [http://bit.ly/NVEhTm]

Ceritanya bermula saat 4 bulan lalu (September 2011) mulai tinggal di Busan, suhu yang mulai dingin (saat itu sekitar kurang dari 20 derajat Celcius) karena memasuki autumn/fall (musim gugur) membuat saya memutuskan memakai kaus kaki dobel agar tetap merasa hangat. Nah jarak tempat tinggal yang lumayan jauh dari lab (sekitar 1 km) membuat kaki saya berkeringat sesampainya di lab sehabis berjalan kaki sekitar 15-20 menit. Namun senior saya (yang orang Korea ituh) walaupun autumn gitu tetap menyalakan pendingin ruangan. Alhasil di luar maupun di dalam lab suhunya sama-sama dingin, jadi mau tidak mau saya tetap harus pakai kaus kaki dobel di dalam lab kalau tidak ingin meriang sepanjang hari selama 6 hari kerja dalam seminggu.

Sebulan kemudian (Oktober 2011), mulai terlihat bercak kemerahan di jari-jari kaki saya. Saat itu belum terasa sakit, jadi saya masih meneruskan kebiasaan pake kaus kaki dobel dipadu dengan sepatu kesayangan saya, hehehešŸ˜€

sepatu kesayangan

Sepatu kesayanganā¤

Awal November untuk mempersiapkan datangnya musim dingin (winter) bersama Riska saya mencari sepatu boot di pasar Nampodong, tapi sayangnya nggak nemu boot yang pas buat ukuran kaki saya. Baru berhasil beliĀ boot tanggal 9 Desember 2011, itupun nomernya 25 (udah paling gede untuk ukuran cewek Korea) dan nge-pres kaki pula! Gapapa deh, yang penting kaki terlindung dari dingin tanpa perlu pakai kaus kaki dobel.

boot nomer 25

Boot bongsor nomer 25šŸ˜€ (http://bit.ly/yRsYLw)

Namun ternyata diĀ bulan Desember minggu kedua, si luka makin merah seperti bersiap pecah dan terasa sangat gatal. Alhasil jalan kaki jadi susah karena luka terasa perih. Ditemani dek Ayi, saya pergi ke klinik kampus di plasa Good Plus. Pihak klinik mengatakan tidak bisa menangani luka saya, disarankan untuk langsung ke rumah sakit. Kamipun menuju rumah sakit di daerah Namsan (4 stasiun dari kampus PNU ke arah Nopo).

Setelah diperiksa, dokter memberi resep untuk seminggu dan perintah untuk tes darah. APA? TES DARAH? *jeng jeng mata saya pun terbelalak*. Terus terang saya paling takut sama yang namanya jarum suntik. Sebenarnya udah biasa diambil darah & diinfus, tapi karena ibu saya bidan jadilah selalu yang melakukannya ibu saya sendiri. Pengalaman diambil darah oleh orang lain, rasanya sakit sekali, tidak smooth seperti diambilĀ darahĀ olehĀ ibu. Alhasil saya tetap tidak berani sama yang namanya jarum suntik >.<

Setelah pihak RS memberitahu biaya tes darah yaitu sebesar 330,000 won, dek Ayi menanyakan ke International Office PNU berapa besar reimburst-nya, ternyata (hanya) 280,000 won. Kalo diabetes, insya Allah saya tidak ada bakat itu di dalam keluarga jadi gak perlu tes darah untuk tahu jawabannya. Saya duduk sebentar dan berpikir, naga-naganya udah gak pengen diambil darah, plus ada tanggungan 50,000 won yang harus dibayar, hehehešŸ˜€. Akhirnya saya memutuskan untuk gak tes darah, tapi tetap nebus resepnya.

obat dari dokter di Namsan hospital

obat dari dokter di Namsan hospital

Seminggu setelahnya, rasa gatal sudah hilang namun luka menjadi semakin parah. Ada teman yang menyarankan untuk kembali ke dokter, tapi saya tahu pasti dokter nanti menyuruh tes darahšŸ˜¦. Akhirnya saya berusaha jadi dokter buat diri sendiri: pake Betadine (“Dasar miss Betadine”, kata Riska), pake krim Atrix, pake madu propolis, dll; saya coba semuanya satu-persatu. Puncaknya saat minggu kedua Januari 2012, lukanya pecah dan sakitnya udah gak bisa ditahan lagi sehingga sudah gak kuat jalan ke lab. Saya ijin ke profesor untuk istirahat sampai kaki saya sembuh, profesor pun mengijinkan.

krim Atrix

krim Atrix

Melihat parahnya “bentuk” luka di kaki saya, teman Korea saya mbak Kyoungjae memaksa saya agar mau pergi ke dokter, akhirnya saya menurutinya dan kami berangkat tanggal 16 Januari kemarin. Kami pergi ke “On Hospital” di daerah Buam (dari line 1, pindah ke line 2 di Seomyeon, turun 1 stasiun kemudian keluar di Exit 6). Dokter mengatakan bahwa kaki saya kena FROSTBITE (ė™ģƒ). Menurut kak Wikipedia, frostbite adalah kondisi dimana lapisan kulit rusak karena suhu yang dingin. Frostbite sering ditemukan terjadi pada bagian tubuh yang paling jauh dari jantung dan di area terbuka, terutama daerah jari kaki dan atau tangan. Dokter sempat heran bagaimana bisa saya kena frostbite padahal Busan tidak sedingin Seoul dan saya bukan termasuk pendaki gunung. Ah andai dokter tahu, saya begitu masuk PNU jadi “pendaki” gunung, dokšŸ˜€

Dokter memerintahkan untuk “ngamar” karena frostbite di kaki saya ini sudah second degree, satu stage lagi ancamannya amputasi! Mau tidak mau saya terpaksa nurut, setelah Kyoungjae membereskan masalah asuransi dan sebagainya, kemudian saya harus menjalani TES DARAH yang saya benci, tes urine, dan foto rontgen resmilah saya sebagai penghuni kamar 904 bersama 7 orang ahjummaĀ :D *jadi paling cantik euy* #gakpenting

Waktu tes darah ternyata rasanya gak sesakit waktu di Indonesia, bahkan hampir tidak terasa jarumnya *alhamdulillah ndak jadi nangis waktu itu*. Pun saat harus disuntik dan diinfus, tapi tetap aja ada sensasi geli hehehešŸ˜€. Esoknya saya dipindah ke kamar 706 karena lantai 7 itu khusus buat yang kakinya sakit (patah tulang dsb). Tadinya saya di kamar itu sendiri, sorenya ada 3 pasien lain yang semuanya halmoni (nenek)šŸ˜€ *tuh kan jadi paling cantik lagi*. Para halmoni ini kalo malam saat tidur menyetel kondisioner ruangan menjadi suhu 30 derajat, sehingga membuat kaki saya berkeringat luar biasa sehingga rasa gatal yang timbul makin menjadi. Bayangkan saja, saat kaki saya masih diperban rasa gatalnya tidak bisa saya hilangkan dengan menggaruk karena tebalnya lapisan perban, namun esok malamnya saat perbannya dibuka dan kaki saya berkeringat saya jadi leluasa menggaruknya dengan resiko luka saya jadi semakin parah. Alhasil saya tidak bisa tidur karena galau mau garuk atau tidakšŸ˜¦. Kalo saya bilang ke suster bahwa kaki saya gatal, pasti susternya buru-buru ngasi suntikan (bukan disuntik di selang infus tapi langsung di kulit), makanya saya agak horor aja kalo harus ngaku gatal, mending pura-pura ndak gatal biar nggak disuntikšŸ˜€. Esoknya dokter memindahkan (lagi) saya privat ke kamar 707, wah bahagialah saya bisa sekamar sendiri, alhamdulillahšŸ™‚

Alhamdulillah setelah 10 hari dirawat, kemarin (26 Januari 2012) saya boleh pulang. Benar-benar pengalaman yang tidak terlupakan, winter pertama di negeri orang kena frostbite dan harus dirawat di RS tanpa keluarga. Salah satu suster bahkan menangis saat saya harus pulang, selama ini dialah satu-satunya perawat yang bisa berbahasa Inggris sehingga kami sering ngobrol. Syukurlah teman-teman setiap malam datang membawakan pakaian ganti & makanan yang saya inginkan. Pertolongan Allah datang lewat mbak Kyoungjae, mbak Seohyeon, mbak Hyuseon, Riska, mbak Dini, Harist, dek Ayi, Amna, dan teman-teman lainnya :’)

Sebenarnya Busan cukup hangat (paling dingin -6 derajat sampai bulan Januari ini), sehingga dokter agak kaget saya bisa kena frostbite. Sebenarnya mungkin penyebabnya tidak hanya dingin, tapi akumulasi dari bulan September itu. Agar tidak terkena frostbite, usahakan menjaga suhu yang hangat (bukan panas & bukan dingin) di daerah kaki, tangan, dan hidung.

Rusaknya pemanas air danĀ ruangan di kos membuat kaki saya harus menahan dingin, terutamaĀ ketika harus berurusan dengan yang namanya kamar mandi. Saat-saatĀ ituĀ (ketika mulaiĀ memasukiĀ musim dingin)Ā merupakan saat-saat perjuangan yang berat, dimanaĀ dinginĀ menyergapĀ namunĀ pemanasĀ air & ruanganĀ tidakĀ ada. Setiap sebelum tidur, saya merasakan dingin yang luar biasa (walaupun sudah sedikit berkurang dengan adanya selimut listrik), hingga terpikir tidak akan bangun esok paginya. Mati beku, maksudnyašŸ˜¦

Namun Allah berkehendak lain, diberinya saya ujian berupa frostbite. Selamat datang, musim dingin!šŸ™‚

 

[Updated on 2013, Januari 10th]

Saat ini (Januari pekan ke-2, alias winter bulan keĀ 3 awal) jari-jari kaki saya lumayanĀ “membengkak” lagi dan kalo dipake jalan terasa agak sakit. Rasanya sedikit mirip sama yang saya rasakan tahun lalu (saat bulan November akhir). Rupanya frostbite datangnya seperti akumulasi dari dingin yang terus-menerus, jadi di hampir akhir winter dia baru menyerang. Akhirnya mau-tidak-mau saya harus selalu menghangatkan kaki saya namun tidak boleh lembab/berkeringat. Alhasil saya harus menghangatkan kaki menggunakan heater selama berada di dalam lab.

Heater

Heater

 

Tips saat harus dirawat diĀ rumah sakit Korea:

1. Bawa perlengkapan pribadi: tisu, tisu basah, sendok (dan garpu / sumpit jika perlu), gelas minum. Karena pihak catering rumah sakit hanya menyediakan makanan tanpa alat makan (sendok / sumpit). Untuk minumnya bisa mengambil air putih di dispenser yang selalu disediakan di setiap lantai. Di Korea, setelah makan pasien harus mengembalikan sendiri nampan makan ke rak nampan kotor yang terletak di dekat lift atau toilet tiap lantai. Syukur kalo ada teman atau saudara yang berkunjung, jadi bisa minta tolong dikembalikan; tapi karena teman saya datangnya hanya malam hari setelah nge-lab, otomatis hal tersebut harus saya lakukan sendiri. Orang Korea sudah biasa kok terlihat berjalan-jalan sambil menggeret tiang tempat infus beserta selangnya, jadi lucu sendiri pas ngeliat saya juga ngelakuin itušŸ˜€

Sendok semasa di RS (dari Riska)

Sendok semasa di RS (dari Riska)

2. Jika kitaĀ memiliki pantanganĀ makanan (seperti sayaĀ yang Muslim dan pantang makanĀ babi,Ā danĀ daging sembelihanĀ yang tidak halal), makaĀ jangan segan untuk menyampaikan hal tersebut kepadaĀ suster. Mereka akan memberi lauk lain sebagai pengganti apa yang tidak bisa kita makan.


7 responses to “Pengalaman Kena Frostbite

  1. nia says:

    emang ukuran kaki orang korea lebih kecil dari orang Indonesia ya mbak?

  2. tantri says:

    ya ampun Nellllyy… parah bener nih km kok sampai ngamar segala…šŸ˜¦ aku baru tau jenis pengakit gt loh ne… jaga diri donk Nel, di negara orang ojo smpe sakit segala smpe ngamar lg..emang sih pengalaman ngamar di negara orang(jd bisa nulis cerita di Blog..heheh..).. tapi ya teteep aja sakit itu dimana2 ndak enak..šŸ™‚ Take care yes… ^^

  3. ratihdians says:

    waduuuhhh,…..untung sudah mulai sembuh ya Nelly…..semoga segera pulih sepenuhnya. Trima kasih infonya, sy gak nyangka bisa separah itu suhu dingin.

  4. annisa says:

    Neeeellll syereeemm bgt :s jaga kondisi nellyyyy jgn sampe ngamar lagišŸ˜¦ kpn balik indo nih?:) aq di malang kl kmaleman aja ga brani mandi, gmn kalo aq kuliah di korea ya?masa selama bbrp bulan ga mandi??wkwkwkwk.
    Take care ya neeee *hugs

  5. selamat ya mbak nelly, punya pengalaman sungguh berharga. jadi inget ulsan-busanšŸ˜‰ salam

  6. yudha says:

    wah.. gtu ya mbak di korea.. ckckck brarti di jepang gtu jga ya. wohh gawat ini yg g terlalu suka ma dingin.. eh mbak. itu g sakit disuntik dikasih apaan??di indo masih aja sakit –a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: