i love my life

i write to fight my short-memory-loss | my room for learning and sharing something new

Mang Jadi sang Tukang Sol Sepatu dan si Tante

on 12 September 2012

Siang tadi habis baca pengalaman mbak Meutya ketemu bapak tukang sol sepatu, saya jadi inget kalo punya simpanan cerita yang hampir serupa. Namun cerita ini bukan pengalaman saya pribadi, melainkan saya ambil dari salah satu newsletter milik seorang trainer bernama pak I Putu Surya Negara pengarang buku Ketjap Nomor Doea. Berikut kisah bapak tukang sol sepatu yang ceritakan oleh pak Putu;

Mang Jadi sang tukang sol sepatu

Mang Jadi sang tukang sol sepatu

Hari Minggu 12 Agustus 2012 jam 09.17 pagi, saya baru saja menyelesaikan pemasangan lampu tambahan yang bisa menyala sendiri kalau malam. Rumah akan saya tinggalkan untuk ikut mudik ke Yogya. Saat itulah suara khas lelaki bersepeda butut  dengan irama teratur mengingatkan saya. “Sooollll sepatuuu.”  Saya ingat ada sepasang sepatu yang bermasalah sejak sebulan terakhir ini.

Sepatu itu milik anak perempuan saya yang sekarang sudah jadi remaja tanggung  di kelas 3 SMP, atau kelas 9. Sebulan yang lalu, saya mengajak Erika anak saya ke toko sepatu. Sekolahnya mensyaratkan harus pakai sepatu hitam. Jadilah kami berburu dari toko ke toko.  Tidak sesederhana mencari yang berwarna hitam terus bayar. Ada faktor pertimbangan estetika sebagai remaja gaul, dan faktor regulasi, hitam, yang harus dipatuhi. Alhasil, anak saya tertarik dengan sepatu sneaker  sebuah merk dari Amrik yang pernah dibahas oleh Malcolm Gladwell dalam Tipping Point. Bentuknya dan guratan grafisnya manis. Mayoritas hitam, dengan lubang kancing putih dan tali sepatu putih. Dilingkari karet berwarna putih di bagian bawah. Pas.  Secara estetika lolos. Tapi anak saya bertanya, “Apa boleh ada putihnya ya pa?”. Saya jawab dengan bersemangat,”Lihat nak, warna hitamnya sudah menguasai 75%, putihnya cuma asesoris. Kalau tak boleh kita ganti tali sepatunya jadi hitam. Dan kita spidol bagian yang masih tak boleh.” Saya memang lihat sepatu itu ‘remaja banget’.

 

Hari pertama sekolah, anak saya mengabarkan berita duka cita sepulangnya. Tidak boleh ada putih sama sekali. Jadilah saya berada dalam posisi harus mempertanggungjawabkan sepatu itu. Dan di sinilah saya di suatu pagi yang sangat tenang,  karena para tetangga sudah mendahului mudik lebaran kemana-mana.  Lelaki tukang sol itu saya panggil. Saya jelaskan masalah genting saya. Dan dia menggeleng. “Harus di-cat pak”, katanya.  Jawaban sama seperti tukanng sol lain yang lewat minggu lalu. Kali ini saya bersikeras, pokoknya proyek sepatu saya harus selesai sebelum lebaran tiba. “Kan bisa dilapisi karet hitam, mang.”, saya menunjuk ke lembaran karet tipis di jok sepedanya. Setelah berdebat 2-3 menit, saya menang.  Jadilah dia memulai proyek rehabilitasi nama baik saya.

 

Karena ini proyek penting, saya menungguinya. Saya amati cara dia bekerja. Sangat teliti dan profesional.  Berusia sekitar tigapuluhan, mengenakan sarung tangan yang jarinya bolong, dan topi rasta-nya Bob Marley.

Iseng-iseng saya bertanya, “Asalnya dari mana mang?”

“Dari Garut”, katanya. Punya seorang istri dan seorang anak lelaki berusia lima setengah tahun di Garut sana. “Anak saya gemuk pak, entah makannya apa dikasi sama istri saya.”

Ketika saya tanya seberapa sering dia pulang ke Garut, dia jawab,”Nggak tentu juga atuh pak, bisa sebulan sekali, bisa 3 minggu sudah pulang. Tergantung kangen-nya sama si kecil, euy. Dan sekali pulang minimal seminggu, atau malah bisa sepuluh hari.”

Wah, si tukang sol sepatu ini, namanya Jadi,  sangat family-man, euy.

 

Mang Jadi bercerita, sejak tamat SMP sudah mulai kerja sebagai tukang las. Cuma bertahan 2 tahun, karena dia kemudian diajarin ngurusin sol sepatu sama kawannya. Jadilah kemudian  tukang sol selama 15 tahun terakhir ini. “Mulai kerja sekitar jam 8 pagi pak, pulang juga jam 4. Cuma dua perumahan saja, di sini dan di Melati Mas. Tapi kalau masih ada yang manggil tetap saya layani.”

Saya berhitung, kalau menurut Anders Ericsson, 15 tahun kali katakanlah 200 hari kali 2 jam tiap hari jumlah jam terbang Mang Jadi sudah 6000 jam terbang. Belum cukup untuk mencapai 10.000 jam memang.  Level 10.000 jam akan menentukan tingkat kepiawaian kita menjadi salah satu yang terbaik di sebuah industri. “Memang tiap hari ada terus yang manggil mang?”, tanya saya. “Nggak tentu rame-nya, pak. Tapi kalau rejeki mah ada terus atuh, asal kita mau jalan.”. Wah si Mang Jadi mulai berfilsafat rupanya.  Tapi tidak kelihatan kalau dia pernah baca buku motivasi atau ikut seminar pengembangan diri berharga jutaan rupiah.

 

Dia cerita setiap pulang bisa bawa uang lumayan, meski nggak sampai sejuta, ”Biaya makan di sini mahal pak. Kalau kamar kontrakan lumayan murah, tiga ratus ribu sebulan, kamar ukuran dua setengah kali dua setengah meter.”

Wah, lumayan bagus dong mang,” sela saya. “Lebih luas dari kamar kos saya waktu mahasiswa dulu”, pikir saya.

“Tapi itu berempat pak, bareng dengan teman-teman dari Garut juga. Jadi bisa urunan bayarnya.”

Saya terdiam, dan dia melanjutkan, ”Yang penting untuk bisa tidur sajalah pak.”

 

Perbincangan filsafat  Mang Jadi agak terhenti ketika sebuah sedan tahun 2000-an berhenti di depan rumah saya. Pengemudinya seorang wanita  berusia 50-an turun, dan mengucap salam dengan santun. Dia kemudian mengambil sepasang sepatu high heel dari bagasinya.

“Maaf ya pak, kira-kira bisa memperbaiki sepatu ini nggak ya?” Saya lihat alas high heel-nya copot satu.

Dengan sigap si Mang Jadi menjawab, “Bisa atuh bu. Tapi harus dua-duanya, biar sama.”

Si tante agak tercenung sedikit,”Aduh, nggak bisa satu saja ya pak?”

Dan Mang Jadi sibuk memberikan penjelasan teknis. Ketika si tante bertanya berapa ongkosnya, Mang Jadi menjawab 25 ribu sepasang.

Saya lihat  si Tante tambah tercenung, ”Nggak bisa ditawar pak?”

“Dua puluh deh bu”, kata si Mang Jadi.

“Boleh sepuluh ribu nggak pak?” Mang Jadi menggeleng dan kemudian tenggelam kembali mengerjakan proyek rehabilitasi nama baik saya.

“Kalau begitu nggak jadi ya pak,” Dan si Tante mengucapkan salam dengan santun ke saya. Sebelum melaju dengan mobilnya, si tante bertanya ke saya, ”Pak, rumah yang dijual cuma satu itu saja ya pak? Ada lagi nggak rumah yang mau dijual di kluster ini?”.

 

PS. Keesokan paginya, anak perempuan saya tetap menolak menggunakan sepatu itu. “Masih ada garis putih”, katanya. Ya sudah lah, proyek saya gagal.

 

###

 

Jedeeer! Ending yang satir, bukan?😐


One response to “Mang Jadi sang Tukang Sol Sepatu dan si Tante

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: