i love my life

i write to fight my short-memory-loss | my room for learning and sharing something new

Ramadhan dan Lebaran (Pertama) di Perantauan, Busan

on 25 October 2012
Si kambing masih bisa update status sampe besok pagi :D

Si kambing masih bisa update status sampe besok pagi😀

Gambar pembuka postingan kali ini memang ndak nyambung blas sama judul. Berhubung besok (26 Oktober 2012) adalah hari raya Idul Qurban 1433 H, namun cerita Ramadhan hingga hari raya Idul Fitri yang telah terlewati 2 bulan lalu malah belum saya tulis. Beberapa teman di Indonesia sudah bertanya-tanya melalui email maupun twitter, “Di Korea ada Idul Adha, ndak? Disana apa potong sapi atau kambing, ndak?”, jadinya saya punya 2 hutang: cerita tentang Idul Adha sekaligus Idul Fitri :p

Mengingat: karena ini adalah pengalaman pertama saya puasa dan lebaran di perantauan; menimbang: banyak teman yang nanya bagaimana cerita Ramadhan saya di Korea; menutuskan: maka dengan ini saya menyisihkan waktu menulis postingan spesial. Semoga tidak ada hal penting yang terlewat, secara saya orangnya pelupa. Alhamdulillah beberapa foto siap menjadi hint yang akan membantu saya merangkai kata nantinya (ini beneran posting ndak pake draft, langsung nulis aja tanpa outline :D).

Sebelumnya perlu diketahui, saya dan beberapa teman memutuskan tidak tinggal di dormitory (asrama mahasiswa) karena tidak menyediakan dapur untuk memasak, sedangkan dalam menu sehari-hari pihak dapur dorm lebih banyak menyediakan menu non-halal. Otomatis mahasiswa Muslim (ataupun vegetarian) hanya bisa gigit jari makan nasi putih ketika tidak ada lauk yang bisa dimakan. Kami mengontrak sebuah rumah sehingga pengelolaannya pun kami lakukan bersama; kami mengatur jadwal masak harian, jadwal piket bersih-bersih rumah mingguan, dll. Yaaa itung-itung belajar buat nanti kalo udah punya suami dan rumah sendiri😀

 

Masjid Al-Fatah, Busan :')

Masjid Al-Fatah, Busan :’)

Bulan Ramadhan tahun ini sangat spesial buat saya, bukan hanya karena Ramadhan memang spesial disebabkan di dalamnya terdapat malam seribu bulan, namun juga karena ini adalah kali pertama saya puasa di luar negeri. Di Negeri Ginseng yang memiliki 4 musim dimana Islam menjadi agama minoritas, alhamdulillah Allah memberikan saya kesempatan bertemu dengan bulan yang telah dirindukan selama 11 bulan yang lalu ini. Bulan Ramadahan 1433 H yang dimulai pada tanggal 20 Juli 2012 bertepatan dengan liburan musim panas di Korea, sehingga kami tidak merasakan yang namanya “puasa di kelas” tapi “puasa di lab”, hehehe. Insya Allah tahun depan jika diberi kesempatan lagi maka kami akan merasakan “puasa di kelas”, pasti lain lagi ceritanya dengan kali ini😉

 

Busan vs Surabaya vs Jakarta

Busan vs Surabaya vs Jakarta, sudah terlihat bukan siapa “pemenang”nya?😀 *kontes kota terpanas di saat summer*

Diawali dengan stigma negatif  Ramadhan yang selalu bertepatan dengan musim panas akibat ngobrol dengan beberapa teman yang ujung-ujungnya selalu bilang, “Wah panas banget pokoknya kalo puasa disini, mana lama banget jarak antara Subuh sama Maghrib! Ditambah lagi cewek-cewek Korea kalo summer sukanya pake hot pants, beuuuh!”; saya yang baru merasakan musim gugur, musim dingin, dan musim semi jadi sedikit merasa underestimate dengan diri saya, “Wah tantangannya lumayan gede juga nih!”. Maka di banyak kesempatan ngobrol dengan mbak-mbak yang sudah lama di Korea, saya selalu bertanya tips agar sukses puasa di musim panas. Namanya juga newbie euy, dimaklumi laaah :p

Dan memang benar, musim panas di Korea lebih panas dibandingkan musim kemarau di Indonesia. Matahari bersinar sangat terik dan kelembaban udara tinggi, alhasil semua orang merasakan yang namanya kulit yang perih terbakar dan keringat yang sangat lengket (lepek, kalo kata orang kebanyakan). Tapi tidak dengan yang saya rasakan sebagai muslimah, dengan kerudung dan baju serba panjang justru kulit saya terhindar dari sengatan matahari, jadi ndak ada tuh yang namanya kulit berasa kebakar kayak kata orang-orang. Saya hanya mengeluarkan banyak keringat ketika harus berada di luar ruangan; saya yang notabene termasuk orang yang sedikit keluar keringat, di summer kemarin merasakan yang namanya mandi keringat dan rasanya lengket di badan. Panasnya Surabaya atau Jakarta kurang nampol deh kalo dibanding panasnya Korea pas summer. Orang Korea pun bertanya-tanya mengapa saya tetap “mempertahankan kostum” kerudung dan jubah panjang bahkan di kala summer, “안더워요?” (andowoyo) yang artinya “Nggak panas, kah?”; saya hanya tersenyum sambil menjawab tidak panas🙂 *belum tahu aja mereka kalo saya emang nggak ngerasa panas, tapi lepek ᄏᄏᄏ, jauuuh lebih panas neraka euy kalo saya berani buka kerudung!*

Maka dari itu, di Korea sudah lumrah bagi anak lab yang melaksanakan puasa akan menjadikan lab-nya sebagai “summer nest” alias sarang selama musim panas, karena di lab kan ada AC (gratis) yang kita tinggal ngadem dan belajar di dalamnya. Selama summer berangkat ke labnya harus lebih rajin dari biasanya, sebelum jam 9 harus udah berangkat karena jam 9 lebih dikit aja sinar matahari udah bikin mandi keringat. Yang patut saya syukuri lainnya adalah, bahawa Busan adalah kota yang cuacanya “moderat”; saat summer, Busan paling dingin dibanding kota-kota lain di Korea; saat winter, temperatur Busan paling hangat dibanding kota-kota lain di Korea. Alhamdulillah🙂

 

Jadwal waktu shalat dan penanda berbuka puasa ;)

Jadwal waktu shalat dan penanda berbuka puasa😉

Gambar di atas sudah menjelaskan banyak hal, bukan? Salah satunya, bahwa di Korea lama berpuasa adalah hampir 16 jam (tapi ada yang lebih lama lagi: 20 jam pengalaman bu Iin yang tinggal di Irlandia!). Artinya waktu antara Isya’ dan sahur pun juga lebih pendek, otomatis jam tidur juga ikut terpengaruh.

Di Korea, sudah menjadi kebiasaan jika profesor mengajak makan siang atau makan malam bersama seluruh lab member, maka beberapa teman yang memiliki kebiasaan seperti itu di labnya akan menjelaskan bahwa mereka sedang puasa, yang artinya tidak boleh makan dalam jangka waktu tertentu. Tidak semua profesor tahu mengenai apa itu bulan Ramadhan dan mengapa harus puasa, jadi menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang bisa menjelaskan, tentunya dengan bahasa Korea akan lebih memudahkan sang penanya mengerti maksud jawabannya. Lab saya bisa dibilang cukup “aman” dari pertanyaan-pertanyaan yang seperti itu, karena profesor saya hanya makan dengan senior dan programmer yang orang Korea, sedangkan saya dan lab member dari China tidak pernah diajak makan bareng. Mungkin karena di lab, kami tidak dituntut untuk mengerjakan project-nya yang hanya dalam bahasa Korea, prinsip “No free lunch” memang berlaku, sodara-sodara😀. Kelebihannya, saya jadi tidak perlu menjelaskan tentang puasa atau mengapa saya tidak boleh makan. Saya hanya perlu mengurangi waktu tidur namun mempertahankan badan tetap fit, agar tidak timbul kesan bahwa puasa saya membuat performa saya menurun, nanti nama Islam deh yang kena.

Kebiasaan lain orang Korea adalah suka pergi bareng jalan-jalan ke gunung dan kemping, cerita teman saya yang diajak nge-gunung pas puasa bisa dibaca disini. Ada lagi teman saya yang satu lab diajak profesornya main air di semacam waterpark di luar kota, itu kebiasaan lain orang Korea saat summer. Semuanya saya nggak pernah ngalamin, hehehe😀

 

Lauk + Sayur + Buah :9

Menu wajib: Lauk + Sayur + Buah :9

Kembali lagi ke tema menu Ramadhan, setiap hari tugas kami menyiapkan makanan untuk sahur dan buka puasa, berhubung kami semua “anak lab” maka kadang kami membawa bekal untuk buka puasa di lab. Menu yang kami masak seperti biasa, harus berisi lauk dan sayuran, lebih bagus lagi kalo disediakan buah sekalian😉

Suasana buka bersama di tempat jama'ah pria

Suasana buka bersama di tempat jama’ah pria

Biasanya jika kami ingin buka puasa di masjid, kami berangkat beberapa saat sebelum adzan maghrib dikumandangkan.  Menu buka puasa di masjid berbeda setiap harinya, dan kadang berasal dari masakan negara lain. Pernah kami merasakan makanan ala Bangladesh dan Turkmenistan yang disajikan di nampan besar berukuran diameter 50 cm. Alhamdulillah kami makan beramai-ramai dengan muslimah dari Indonesia, Korea, Pakistan, Perancis, dan Jepang. Beberapa dari mereka adalah mualaf yang keinginannya untuk mempelajari Islam sangat tinggi, selagi ada kesempatan mereka selalu bertanya banyak hal pada kami. Masya Allah, sungguh haru melihat semangat mereka. Kita yang sejak lahir telah mendapatkan Islam sebagai karunia seharusnya malu jika tidak memahami Islam dengan baik. Bahkan salah seorang dari mereka ada yang tetap berpuasa meskipun sedang (maaf) datang bulan, akhirnya dijelaskan oleh teman saya bahwa saat mens wanita tidak boleh puasa namun wajib menggantinya di hari lain.

Mbak Dini sedang mengajari mualaf dari Perancis cara menentukan arah kiblat dengan menggunakan kompas :)

Mbak Dini sedang mengajari mualaf dari Perancis cara menentukan arah kiblat dengan menggunakan kompas🙂

Berbuka puasa bersama di masjid :) *ndak ada saya disitu, saya ini fotografer (yang baik), bukan? :p*

Berbuka puasa bersama di masjid🙂 *ndak ada saya disitu, saya ini fotografer (yang baik), bukan? :p*

Patbingsu (팥 빙수) es kacang merah ala Korea yang dimodifikasi dengan potongan buah

Patbingsu (팥 빙수) es kacang merah ala Korea yang dimodifikasi dengan potongan buah, menu takjil yang menyegarkan :9

Nasi goreng kambing ala Turkmenistan :9

Nasi goreng kambing ala Turkmenistan :9

Nasi gulai kacang Arab ala Bangladesh :9

Nasi gulai kacang Arab ala Bangladesh :9

Tumis sayur dan ikan plus sambel terasi ala Indonesia :9

Tumis sayur dan ikan plus sambel terasi ala Indonesia :9

Kambing kecap dan rendang yang pedeees buanget :p

Kambing kecap dan rendang yang pedeees buanget :p

Saya tidak suka minuman (& makanan) bersantan, alhamdulillah di masjid ada sirup favorit yang udah lama saya idamkan sejak awal puasa :')

Saya tidak suka minuman (& makanan) bersantan, alhamdulillah di masjid ada sirup favorit yang udah lama saya idamkan sejak awal puasa :’)

 

Saat puasa kemarin, naluri kepengen-bikin-kue-ini-itu-nya mbak Dini sangat tinggi, sehingga saya pun menemaninya membuat apa yang sedang dia ingini. Mulai dari prol kentang, brownies, bubur sruntul wannabe, es buah warna-warni, risoles, kroket kentang, klepon, hingga nasi kuning sudah dia coba buat😀

Prol kentang :9

Prol kentang :9

Bubur sruntul wannabe ala mbak Dini :D

Bubur sruntul wannabe ala mbak Dini😀

Lumpia & risoles mini :9

Kroket kentang & risoles mini :9

Nasi kuning ala mbak Dini ;)

Nasi kuning dkk ala mbak Dini😉

Kalo ini namanya klepon, sodara-sodara :D

Kalo ini namanya klepon, sodara-sodara😀

 

Sehari sebelum Idul Fitri, saya dan mbak Dini ke masjid untuk suatu keperluan. Di ruang keputrian ada mbak ‘Attin yang sedang mengukus lemper dan memasak biji mutiara untuk keperluan jualan esok harinya. Ada side story mengenai itu, bisa dibaca disini. Mbak ‘Attin membawakan kami lemper untuk buka puasa, pak Slamet (seorang ta’mir masjid) memberi kami sate kambing, dan mbak Shinta pun memberi kmai banyak makanan ala lebaran: opor ayam, sambel goreng, kerupuk, emping melinjo dan kacang mete. Masya Allah, alhamdulillah, sungguh sangat terasa ukhuwah diantara kami :’)

Walaupun ndak mudik, kami dapat kiriman makanan ala lebaran Indonesia :')

Walaupun ndak mudik, kami dapat kiriman makanan ala lebaran Indonesia :’) Jazakumullah khaiir.. Mohon maaf lahir & batin🙂
Taqabalallahu minna wa minkum.. Selamat hari raya Idul Fitri.. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan tahun depan :’)

 

Saat Idul Fitri, kami pun ikut berjualan di bazaar setelah sholat ‘Id. Rencana awal kami membuat nasi kuning plus perkedel, namun karena suatu hal maka kami hanya berjualan perkedelnya saja. Seperti biasa sekos kembali bekerja sama menyediakan perkedel siap goreng, mengingat H-1 Idul Fitri personil kami ada yang terbang ke Jerman untuk conference dan ada yang loncat ke Taiwan untuk liburan singkat. Alhasil hanya tinggal saya dan mbak Dini di kos. Dagangan kami alhamdulillah ludes dalam 15 menit. Akhirnya daripada bengong, mbak Dini dan mbak Shinta membantu Iela, teman dari Malaysia, yang berjualan makaroni bakar. Sedangkan saya bermain bersama Nabila😉

Tenda-tenda untuk bazaar di halaman masjid, gambar diambil sore hari H-1 Idul Fitri ketika saya kesana :)

Tenda-tenda untuk bazaar di halaman masjid, gambar diambil sore hari H-1 Idul Fitri ketika saya kesana🙂

Before & After: Perkedel jamur dagangan kami :9

Before & After: Perkedel jamur dagangan kami :9

 

Jadi, bagaimana kesan puasa di negeri rantau? Rasanya luar biasa! :’) *teriring doa, semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan tahun depan, aamiin… :’)*


6 responses to “Ramadhan dan Lebaran (Pertama) di Perantauan, Busan

  1. Fatchy says:

    klepon albino ya mba Ne..😄 tetep diisi gula jawa kah itu? liat foto-foto makanannya jadi ngiler =P~

  2. Saraswati says:

    Mbak neee… ini kenapa postingnya penuh dengan foto makanaaan?.. *elap iler*

  3. wuihhh enak banget ya bisa lebaran di Korea, kapan ya bisa ngerasain kayak gini hehhe… kalo kamu suka sama wisata Korea bisa update aja tuh berita tentang wisata Korea di FB Korea Tourism Organization Indonesia🙂

  4. setiawan says:

    assalamu’alaikum. maaf mau tanya masjid al fattah busan itu lokasinya sebelah mana ya kalau dari dongseo university? kami sedang di busan dan Insya Allah akan merasakan pengalaman puasa di luar negeri tercinta Indonesia kami di sini. terima kasih

  5. denden says:

    assalamualaikum kak,
    harapan terbesar saya adalah bisa S2 di korea selatan,
    suka deh baca-baca pengalaman kakak di korea🙂
    selamat berpuasa🙂

  6. Ladona says:

    seneng deh baca postingan mba ini. Saya jadi pengen dapet kuliah di Korea😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: