i love my life

i write to fight my short-memory-loss | my room for learning and sharing something new

Tulisan Terakhir Novilia Lutfiatul Tentang Kematian

on 8 November 2012

ingat mati

Ingat Mati [Courtesy: Vita Ummu Hawa]

1,5 jam yang lalu baru sempat buka grup Muslimah Indonesia – Korea karena nanti ada kajian, mata saya tertuju pada satu postingan Fadia yang di-link ke sebuah blog. “Lho itu kan blog yang beberapa hari yang lalu kubaca?”, pikir saya. Yang membuat saya terkesiap adalah karena isi postingan dari Fadia begini, “Sebuah blog sederhana dari almarhumah, tapi sangat sarat ilmu dan pengingat. Marilah kita ambil manfaatnya, doakan almarhumah, semoga menjadi amal jariyah baginya.”

“What? Almarhumah? Ya Allah, jadi penulisnya sudah meninggal? Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”, batin saya. Sayapun kemudian mencoba googling dan menemukan banyak berita mengejutkan lainnya mengenai Novilia Lutfiatul, sang pemilik blog. Terus terang semenjak di Korea (apalagi akhir-akhir ini ketika kesibukan melanda) saya jarang membaca berita (dari Indonesia), tujuannya agar pikiran saya tidak terpecah ke kabar-kabar negatif. Update twitter dan facebook-pun hanya seperlunya, istilahnya habis posting sembunyi tangan (baca: tidak saya pantengin terus). Alhasil saya sering melewatkan berita yang sedang “in” saat itu.

 DOSEN TAK BERNYAWA

 

Manusia berawal dari setetes air mani yang hina

Berakhir menjadi seonggok daging yang membusuk

Dan saat ini berada diantara keduanya dengan membawa kotoran kemana-mana”

-Salim A. Fillah- “Dalam Dekapan Ukhuwah”

 

Kematian  merupakan salah satu topik yang sangat dihindari oleh kebanyakan orang, apalagi kita yang masih muda-muda. Sukar dimulai dan mudah untuk dihentikan. Padahal setiap manusia tak akan pernah tahu waktu kedatangannya. Kematian tak akan memandang umur, tua muda akan mati bila waktunya memang telah tiba.

 

Setiap kali memasuki ruangan praktikum anatomi jantungku selalu berdesir miris. Seonggok tubuh yang terbujur kaku dengan bentuk yang sudah tak beraturan dan tak “manusiawi” menjadi pemandangan yang selalu ditemui setiap minggunya. Melawan  kodrat alam, dipaksa tak membusuk dengan formalin. Tubuh-tubuh yang dulunya selalu dibanggakan, tegap, gagah, langsing dan sebagainya yang menjadi pemicu dosa bila tak digunakan dalam koridor syariat-Nya.

 

Untuk melawan rasa takut, hal pertama yang aku perhatikan saat menghadapi cadaver adalah wajahnya. Walaupun tetap bergidik merinding melihat otot-otot wajah yang menegang saat sakaratul maut. Tergambar jelas kesakitan yang dirasakan saat  detik-detik malaikat Izrail menjemput. Bahkan manusia termulia, dengan pengambilan ruh yang benar-benar pelan dan lembut  saja merasakan sakit yang benar-benar sakit. Apalagi kita, yang sadar akan siksa neraka namun tetap rutin berbuat dosa.

 

Ya Allah, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut, mudahkanlah kami dalam menghadapi sakaratul maut.

 

Seringkali  tak teganya rasanya membuka lapisan demi lapisan  kulit mereka, menarik-narik otot untuk mencari perlekatannya, mengorek-ngorek menemukan pembuluh darah serta syaraf yang letaknya tersembunyi dan lain-lain. “ Ini dulunya juga manusia Nov, sama sepertimu,  maka perlakukanlah dengan baik dan lembut”, ucapku pada diri sendiri.

 

Perasaan jijik juga sering mendatangi, bersyukur pada Allah yang memberikan rasa lupa pada manusia. Sehingga aku dan teman-teman masih bisa makan walaupun baru saja memegang dan berkutat dengan cadaver menggunakan tangan kosong, setelah cuci tangan tentunya.

 

Laboratorium anatomi dan seluruh mayat-mayat  didalamnya selalu mengingatkanku akan datangnya kematian yang tak tahu kapan akan menjemputku. Mereka  adalah guru-guruku, guru dunia karena mengajarkan banyak ilmu pengetahuan serta guru akhirat yang menjadi reminder akan kehidupan dunia yang sementara ini.

 

Mayat-mayat yang tak jelas asal usulnya, tunawisma, preman dengan tato-tato di tubuhnya dan entah siapa itu tak pernah mengharapkan tubuhnya disayat-sayat dan dipotong-potong menjadi media pembelajaran kami. Semasa hidupnya mereka pasti mengharapkan mayatnya kelak diurus sewajarnya. Dimandikan, disholatkan, dikafani, dimakamkan, dan didoakan oleh keluarga. Pantas atau tidak mereka bisa disebut orang-orang yang tidak beruntung.

 

Salah seorang temanku pernah bertanya “Apa dosa-dosa mereka bisa tergugurkan ya? Secara fisik mereka adalah preman yang tak pernah kita tahu amal ibadahnya, dan dilihat dari niat mereka tak pernah berharap jadi media praktikum.”

 

“Hanya Allah yang tahu, tugas kitalah selalu berdoa agar dosa-dosa mereka diampuni melalui setiap sentuhan dan perlakuan yang kita berikan pada mereka” ucapku menutup pembicaraan seusai praktikum bebas malam itu.

 

Ya Allah, siapapun mereka, ampunilah dosa-dosa mereka

Jadikanlah setiap perlakuan yang kami berikan sebagai penggugur dosa mereka

Terimalah setiap amal ibadah mereka semasa hidup dulu

Gantikanlah liang lahat mereka dengan rumah-rumah surga-Mu

Gantilah kain kafan mereka dengan baju-baju kebesaran penghuni surga

Sayangilah mereka

Karena mereka kami mengenal ilmu-ilmu Mu

Karena mereka kami menjadi orang yang bersyukur

Dan karena mereka, kelak kami bisa menolong hamba-hamba Mu

 

(Novilia Lutfiatul, 1 November 2012, 3 hari menjelang kematiannya)

 

Sebenarnya beberapa hari yang lalu waktu membaca postingan di blog Novi (setelah melihat status twitter seorang adik, namun saat itu tidak dia tulis bahwa penulisnya meniggal dalam kecelakaan), saya ingin menulis juga tentang kematian, mengingat ini adalah tema yang tidak dapat kita hindari. Kematian niscaya datang, baik kita siap atau tidak.

Saya tidak akan berpanjang-panjang, cukup saya lampirkan surat cinta dari pencipta kita sebagai pengingat bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah persiapan untuk kehidupan setelah kematian

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. [QS Ali-`Imraan 3:145]

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. [QS Al-A`raaf 7:34]

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. [QS Al-`Ankabuut 29:57]

Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja”. [QS Al-Ahzab 33:16]

Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. [QS Al-Jumu`ah 62:8]

Teringat Ibu yang selalu mengulang-ulang nasihat tentang mengingat kematian, dan mengingatkan agar jangan sampai nanti kami su’ul khatimah. Bahkan sejujurnya beliau pun sempat merasakan detik-detik menuju kematian. Hanya karena kemurahan Allah-lah Ibu masih hidup sampai saat ini, saya sungguh bersyukur akan hal itu.

Mengapa kita perlu mengingat kematian? Apa saja yang perlu kita persiapkan guna menyambut kematian dan kehidupan setelah mati yang hakiki? Dan apa saja sebab-sebab su’ul khatimah dan bagaimana tanda-tanda seseorang menghadapi sakaratul maut yang dimudahkan (husnul khatimah)? Silakan baca semua tautan yang saya link-kan ke situs-situs yang bermanfaat tersebut, insya Allah tulisan ini menjadi pengingat untuk saya pribadi dan bagi semua pembaca.

Selamat jalan Novi, kita memang tidak saling kenal tapi dari kisahmu banyak sekali orang yang mengambil pelajaran. Semoga Allah memberikanmu tempat terbaik di sisi-Nya, aamiin.


One response to “Tulisan Terakhir Novilia Lutfiatul Tentang Kematian

  1. […] Namun yang harus kita ingat adalah dengan bertambahnya waktu, maka semakin dekat pula kematian. Sungguh hidup di dunia hanyalah sesaat dan semakin bertambahnya waktu kematian pun semakin dekat. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: